Tugas Mid 2012


1.   Musik Renaisans
            Musik Renaisans adalah musik klasik yang digubah pada Zaman Renaisans, sekitar tahun 1450 sampai dengan 1600. Penentuan batas awal zaman musik ini sulit dilakukan karena tidak terdapat perubahan besar dalam musik pada abad ke-15, selain juga bahwa musik dalam perkembangannya mendapatkan ciri-ciri "Renaisans" secara bertahap. Zaman ini berlangsung sesudah Zaman Pertengahan dan sebelum Zaman Barok. Beberapa komponis dari zaman ini adalah Giovanni Pierluigi da Palestrina, Orlande de Lassus, dan William Byrd.

2.   Musik Barok

            Musik Barok adalah musik klasik barat yang digubah pada Zaman Barok (Baroque), kira-kira antara tahun 1600 dan 1750. Zaman ini berlangsung sesudah Zaman Renaisans dan sebelum Zaman Klasik. Sebenarnya, kata "Barok" itu berarti "mutiara yang tidak berbentuk wajar", sangat pas dengan seni dan perancangan bangunan pada era ini; kemudian kata ini juga dipakai untuk jenis musik itu. Beberapa komponis Zaman Barok adalah Claudio Monteverdi, Henry Purcell, Johann Sebastian Bach, Jean-Philippe Rameau, George Frideric Handel, dan Antonio Vivaldi.
            Pada zaman tersebut, piano belum ditemukan, dan komposisi dikarang untuk hapsicord. Partitur musik di zaman Barok ditandai dengan tidak adanya iringan atau polifoni. Karya JS Bach untuk hapsicord lazim mempunyai dua melodi atau lebih untuk tangan kanan dan tangan kiri.
            Musik Barok lazimnya hanya mencerminkan satu jenis emosi saja. Dibanding dengan Musik Klasik dan Romantik, musik Barok jarang mempunyai modulasi atau rubato. Untuk komposisi piano, pedal jarang digunakan saat memainkan musik Barok.

Musik klasik

            Musik klasik merupakan istilah luas yang biasanya mengarah pada musik yang dibuat di atau berakar dari tradisi kesenian Barat, musik kristiani, dan musik orkestra, mencakup periode dari sekitar abad ke-9 hingga abad ke-21.
            Musik klasik Eropa dibedakan dari bentuk musik non-Eropa dan musik populer terutama oleh sistem notasi musiknya, yang sudah digunakan sejak sekitar abad ke-16. Notasi musik barat digunakan oleh komponis untuk memberi petunjuk kepada pembawa musik mengenai tinggi nada, kecepatan, metrum, ritme individual, dan pembawaan tepat suatu karya musik. Hal ini membatasi adanya praktik-praktik seperti improvisasi dan ornamentasi ad libitum yang sering didengar pada musik non-Eropa (bandingkan dengan musik klasik India dan musik tradisional Jepang) maupun musik populer.
            Sejak abad ke-2 dan abad ke-3 sebelum Masehi, di Tiongkok dan Mesir ada musik yang mempunyai bentuk tertentu. Dengan mendapat pengaruh dari Mesir dan Babilon, berkembanglah musik Hibrani yang dikemudian hari berkembang menjadi musik Gereja.
            Musik itu kemudian disenangi oleh masyarakat, karena adanya pemain-pemain musik yang mengembara serta menyanyikan lagu yang dipakai pada upacara Gereja. Musik itu tersebar di seluruh Eropa kemudian tumbuh berkembang, dan musik instrumental maju dengan pesat setelah ada perbaikan pada alat-alat musik, misalnya biola dan cello. Kemudian timbulah alat musik Orgel. Komponis besar muncul di Jerman, Prancis, Italia, dan Rusia. Dalam abad ke 19, rasa kebangsaan mulai bangun dan berkembang. Oleh karena itu perkembangan musik pecah menurut kebangsaannya masing-masing, meskipun pada permulaannya sama-sama bergaya Romantik. Musik menurut Aristoteles mempunyai kemampuan mendamaikan hati yang gundah mempunyai terapi rekreatif dan menumbuhkan jiwa patriotisme. Mulai abad 20, Prancis menjadi pelopor dengan musik Impresionistis yang segera diganti dengan musik Ekspresionistis.




Tari daerah kuantan singingi

1. Tari Pasambahan yang bernama Tari Somba Cerano berasal dari Budaya Kuansing yang dikograferi (diciptakan) oleh Tom Ibnur salah koreogfer handal dan profesional yang berasal dari Kota Bengkulu. Pengalaman menari dan mencipta dibuktikan dengan pengalamannya dengan terus mengikuti festival Tari tingkat nasional dan Internasional. Tom Ibnur pernah mengikuti perkuliahan jurusan Seni Tari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) , sekarang sudah berubah status menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang yang saat ini berdomisili di Kota Bengkulu.



Seni Tari Somba Cerano ini merupakan tarian penyambutan dan upacara selamat bagi para tamu yang dihormati dan diagungkan. Para penari pria menarikan tari pedang yang merupakan simbol sebagai pagar negeri, pelindung bagi masyarakat maupun tetamu. Sedangkan penari wanita menari dan membawa cerano berisikan sekapur sirih yang akan dipersembahkan untuk para tetamu. Persembahan ini merupakan simbol keterbukaan, persaudaraan, serta penerimaan dengan hati yang suci dan tulus.

Instrumen yang digunakan dalam Seni Tari Somba Cerano
~ Accordion,
~ Biola,
~ Jedor,
~ Jimble,
~ Kotuak-kotuak,
~ Gong.

Musik Pengiring yang digunakan diambil dari Seni Musik Budaya Kuansing diantaranya:
* Menganyam,
* Olang Binti,
* Lomak Dek Awak Ketuju Dek Urang

2.Batobo Salah satu kesenian anak negri melayu.ini merupakan perkumpulan muda-mudi untuk turun ke sawah atau ladang.BATOBO Salah satu tradisi budaya masalampau yang ada didaerah kampar dan kuantan Singingi biasanya kegiatan dilakukan pada musim turun kesawah atau ladang yang diiringi dengan bunyi-bunyian oleh kesenian tradisi, dan pada masa panen hasil sawah dan ladang dinamakan acara penutupan tobo diadakan tradisi makan besama doa. Diramaikan degan malam kesenian, seperti randai atau saluang. Dalam hal ini bisa kita pahami walaupun kegiatan batobo yg ada didaerah riau namun erat juga kaitanya dengan adat orang minang. hal ini kita lihat dalam acara hiburan memakai tradisi randai oran minang.

TOKOH SENI TARI

Prof. Sardono W.Kusumo
Seniman penata tari dan penari berambut sebahu, lulusan SMA Negeri 4 Surabaya, Sardono Waluyo Kusumo dikukuhkan menjadi Guru Besar Institut Kesenian Jakarta (IKJ) 14 Januari 2004. Ia seniman pertama dari Asia yang mendapat penghargaan ISPA. Sepanjang karirnya dia telah menghasilkan tak kurang 25 tarian. Sejak usia 23 tahun ia tak pernah berhenti menciptakan karya tari bukan untuk jual beli, tetapi mencari arti bagi nurani manusia. Ia penata tari Indonesia berkaliber internasional.

Pagelaran tari “Nobody’s body” yang merupakan karya teranyarnya tahun 2000 serta peluncuran buku berjudul “Hanuman, Tarzan, dan Homo Erectus” turut menyemarakkan pengukuhan sang profesor yang seluruh hidupnya diabdikan hanya untuk seni tari.

Buku berisi kumpulan tulisan Sardono tentang tari agaknya menjadi salah satu alasan pelengkap penganugerahan jabatan pengajar tertinggi di lingkungan akademis itu. Mengingat, “sang prof” Mas Don –begitu pria kelahiran Surakarta 6 Maret 1945 ini biasa dipanggil— bukanlah jebolan sarjana setingkat S-1. Maklum, kuliah ayah satu anak ini, di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada maupun Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tidak sampai selesai. Kendati demikian gelar itu dijamin tidak palsu sebab sudah ditandatangani langsung oleh Menteri Pendidikan Nasional Malik Fadjar pada 31 Mei 2003 lalu berdasarkan SK Bersama Menteri Pendidikan Nasional nomor 9601/A2.7/KP/2003.

Penghargaan seni tari yang pernah diterima Mas Don bukan hanya dari dalam negeri. Mas Don menerima Distinguished Artist Award dari International Society for the Perfoming Arts Foundation (ISPA), pada saat Masyarakat Seni Pertunjukan Internasional menyelenggarakan kongres di Singapura pada 20 Juni 2003 lalu.

ISPA memberi penghargaan untuk dedikasi Mas Don bagi dunia seni pertunjukan, terutama untuk kawasan Asia. Penghargaan sejenis pernah ISPA berikan ke beberapa seniman kaliber dunia seperti Martha Graham, Jerome Robbins, Mikhail Barysnikov, dan Sir Yehudi Menuhin. Dan, Sardono menjadi seniman pertama dari Asia yang mendapat penghargaan ISPA bersama dengan seniman asal Singapura, Ong Keng Sen.

Masyarakat Seni Pertunjukan Internasional atau International Society of Performing Arts (ISPA) yang berpusat di New York, AS dan didirikan tahun 1949, itu adalah sebuah forum terhormat dunia yang bertujuan mempromosikan nilai dan peran penting seni pertunjukan di dalam kehidupan. Organisasi ini beranggotakan sekitar 600 pengelola gedung pertunjukan, pusat kesenian, festival, kelompok seni pertunjukan, dan lembaga kesenian/kebudayaan pemerintah.

Lembaga ISPA ini juga mengenal Mas Don sebagai sosok yang mengangkat kebudayaan Jawa ke dunia internasional, namun uniknya, di sisi lain dia juga sering melawan tradisi Jawa. Dr Kwok Kian Woon, Kepala Practice Performing Arts Centre pada ISPA, menyebutkan banyak seniman Asia yang bagus tetapi Sardono bisa dikatakan sebagai seniman terkemuka yang memberi pengaruh pada perkembangan kesenian tradisional dan modern. Dia memberi warna lain dalam pertunjukan kontemporer, terutama untuk negara-negara Asia Tenggara.

Sementara dari Pemerintah negeri Belanda pada 1998, Mas Don menerima penghargaan berupa Prince Claus Award. Pemerintah Belanda melihat keseriusan Mas Don dalam melakukan riset di bidang seni dan budaya. Pengakuan lain dari dalam negeri dari Pemerintah RI terhadap Mas Don adalah penganugerahan penghargaan Bintang Budaya Parama Dharma dari pemerintah Republik Indonesia tahun 2003.

Gelar profesor menjadi bukti tingginya pengakuan semua pihak terhadap hidup berkesenian Mas Don, yang sejak usia 23 sudah menghasilkan tari berjudul Samgita Pancasona yang waktu itu sudah dipentaskan di Jogjakarta, Solo, Jakarta. Tak lama setelah pementasan itu, dengan membawa nama misi kebudayaan ke luar negeri pada tahun 1971 Mas Don dengan bangga mementaskan tari Cak Tarian Rina di Iran dan Jepang.

Sepanjang karirnya dia telah menghasilkan tak kurang 25 tarian. Diantaranya adalah Dongeng dari Dirah, Hutan Plastik, Hutan Merintih, Passage Through the Gong, Opera Diponegoro, Cak Tarian Rina, Awal Metamorfosis, dan Samgita Pancasona. Semua karyanya punya keunikan tersendiri sebab pasti berhubungan dengan kondisi suatu mayarakat pada kurun waktu tertentu yang “dipotretnya” menjadi karya tari.

Dongeng dari Dirah adalah salah satu karya spektakuler Mas Don. Karya ini sempat dibawakan di Prancis, pada tahun 1974 dan mendapat banyak pujian dari kalangan seni tari. Dengan tarian ini pula dia dikritisi sejajar dengan dua maestro seni pertunjukan dunia, yaitu Maurice Bejart dan Robert Wilson. Padahal, usia Mas Don saat berkeliling dunia mementaskan pertunjukan itu baru 29 tahun. Dongeng dari Dirah yang menorehkan nama Mas Don ke dunia seni tari internasional, itu diangkat dari kisah klasik asal Bali, Calon Arang.

Apresiasi dunia luar terhadap Mas Don memang tinggi. Saat melakukan perjalanan karir keliling ke Amerika Serikat tahun 1993, adalah salah satu saat perjalanan karir lainnya yang berkesan. Pentas penampilan berjudul Passage Through the Gong ketika itu disambut hangat publik seni Negara Paman Sam. Road show tersebut digelar di Next Wave Festival Broklyn Academy of Music New York, San Francisco, Los Angeles, dan Burlington. Begitu antusiasnya sambutan warga New York, Mas Don melakukan pergelaran dua kali di ibu kota dunia itu. Dan di tahun yang sama, pentas kedua digelar di BAM Carey Playhouse, New York.

Keuletan Mas Don dalam menciptakan sebuah karya tari tak pernah berhenti. Dia terus menunjukkan kreativitas-kreativitas baru, biasanya setelah sekian lama mendalami kehidupan masyarakat yang ingin “dipotretnya” menjadi tarian. Dia mau masuk ke dalam kehidupan masyarakat tertentu. Seperti, untuk membuat kreasi tari dengan latar belakang masyarakat Dayak, Mas Don harus homestay di tengah hutan belantara Kalimantan bersama komunitas Dayak. Begitu juga saat dia terinspirasi suku Nias di Sumatera Utara.

Pargelaran pertunjukan berjudul Meta Ekologi yang mengetengahkan kepeduliannya terhadap lingkungan, di tahun 1975, terinspirasi setelah dia mendalami kehidupan Dayak dan Nias. Karya Mas Don lain tentang lingkungan adalah Hutan Plastik di tahun 1983 dan Hutan Merintah tahun 1987. Mas Don juga menghasilkan lakon Maha Buta pertanda dia tidak melupakan kehidupan spiritual yang diberikan Sang Khalik.

Di usia paruh bayanya, sejak tiga tahun terakhir Mas Don mulai berperan sebagai guru bagi siapa saja. Baginya, menjadi guru justru “menambah ilmu”, mendapatkan hal baru sebab pengalaman mengajar itu berbeda dengan menari.

Ayah dari Nugrahani, anak buah perkawinanya dengan Amna W.Kusumo ini tidak hanya menggeluti seni koreografi dengan menghasilkan karya-karya koreografi, tapi juga terjun sebagai pengader koreografer-koreografer muda. Hal itu dilakukannya dengan cara terjun sebagai seorang pengajar di Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Solo, dan di Institut Kesenian Jakarta.

Dan jika bicara tentang mengajar maka pria berambut sebahu ini pasti akan bersemangat, terutama tentang perannya sebagai guru. Misalnya, Sardono mewajibkan setiap muridnya mempresentasikan karya akhirnya di tempat asal si murid. Dengan begitu Sardono bisa melihat bagaimana si murid “melihat” komunitas asal si murid itu sendiri, misalnya, setelah dua tahun belajar kesenian. Si seniman tak harus terputus interaksinya dengan masyarakatnya sendiri.

“Saya hanya berusaha memperkaya mereka dengan apa yang sebenarnya saya dapatkan, juga dari murid yang lain. Misalnya, saya membawa pengetahuan dari murid di Australia ketika mengajar di Solo, atau sebaliknya, setelah melihat presentasi murid di Padang, saya membawanya ketika mengajar di Singapura,” tuturnya. Ia memang sangat terlibat dengan pasang surut lingkungan masyarakatnya.

Belakangan ini Sardono tak lagi menghabiskan banyak waktunya di Indonesia, tapi sudah lintas negara Asia Tenggara. Dia mengaku masih pergi ke Padang, Bandung, atau Jakarta, di mana muridnya menggelar presentasi. Selain itu, ia juga pergi ke Hanoi, Kamboja, Singapura, dan lainnya. Lingkup penggaliannya tak lagi terbatas pada tradisi di Indonesia, tetapi mencakup Asia, terutama Asia Tenggara.

Staf pengajar IKJ ini sejak awal sudah mencoba berusaha memajukan kesenian di Indonesia dengan ikut terlibat mendirikan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta, yang merupakan cikal bakal Institut Kesenian Jakarta, pada 1970. Sekolah seni yang didirikannya dimaksudkannya untuk mendidik para seniman supaya menjadi orang besar. Dia lalu menggalakkan berbagai workshop dengan seniman tari dari luar negeri. Misalnya dengan Peter Brooks di Ecole Superieure de Choreographie di Prancis. Lantas, melakukan workshop di Denmark bersama dengan Odin Teatret dan Theatre du Soleil Prancis.

Dalam setiap mengajar Mas Don berusaha untuk tampil sekomprehensif mungkin, misalnya dengan menyisipkan elemen-elemen seni lain seperti senirupa, film, dan musik. Mas Don yang juga staf pengajar Program Pasca Sarjana STSI Solo ini beralasan, semua unsur seni itu saling terkait. Mendalami seni tari harus pula bisa melakukan seni peran di atas panggung, harus bisa melihat visualisasi dari sisi penonton dan bukan hanya dirinya sendiri.

2.OKOH TARI SUNDA

Lampiran. 1: Biodata Tokoh Tari Sunda1. R. YUYUN KUSUMADINATA

Tempat/tanggal lahir: Bandung, 5 Juli 1935, Alamat: Jl. Dulatip No. 60 Bandung.
Pengalaman belajar menari, antara lain: Tahun 1943 berguru pada Rd. Dadan
Kusumadinata (Ayahnya); Tahun 1948 berguru pada R. Tjetje Somantri; Tahun 1960
berguru pada Mama Resna. Materi tari yang dipelajari adalah tari Wayang, tari Keurseus,
tari karya R. Tjetje Somantri, dan Pencak Silat.
Kekaryaan, antara lain tari: Mojang Tani, Tenun (1960), Panca Sari (1970), Gandrung
Arum (1970), Indang Sunalagena (1980), Perwira Santika (1980).
Piagam Penghargaan, antara lain: dari Gubernur Propinsi Jawa Barat (1975), Dubes
Washington D.C (1969), Workshop Sundanese Dance Style in USA & Canada, Layang
Salaka Domas Bandung (2001), dan dari STSI Bandung.
2. R. ENOCH ATMADIBRATA
Tempat/tanggal lahir: Bandung, 9 Nopember 1927, Alamat: Gang Dukuh No 80 Komplek
Melong Raya Cijerah Bandung, Pendidikan: Alumni Institute of Ethnomusicology
Universitas California .. Los Angeles (UCLA).
Pengalaman belajar menari, antara lain: Tahun 1943 belajar tari Keurseus dari Rd.
Ganjar; Tahun 1949 belajar dari R. Tjetje Somantri; Tahun 1948-1951 belajar tari
Keurseus dari R. Joesoef Tedjasukmana dan Tahun 1950, belajar dari Sari Redman.
Kekaryaan, antara lain tari: Lenyepan Putri (1953), Hujan Munggaran (1955),
Cendrawasih, dan Katumbiri (1957).
Pengalaman berkesenian, antara lain: Mengajar tari Sunda dilingkungan pendidikan
formal dan non formal baik di dalam maupun di luar negeri; Lawatan misi kesenian
khususnya seni Sunda ke beberapa negara di luar negeri; Membuat karya tulis, penelitian,
pendokumentasian kesenian, dan menerbitkan buku-buku kesenian Sunda dalam bahasa
Sunda, Indonesia, dan Inggris.
Piagam Penghargaan, antara lain: dari Gubernur Propinsi Jawa Barat (1985), dan Satya
Lencana 2003 dari Presiden RI.

TOKOH TARI SUNDA
STANDAR KOMPETENSI NASIONAL BIDANG KEAHLIAN TARI SUNDA 2
3. SUJANA ARJA
Tempat/tanggal lahir: Cirebon, 1942, Alamat: Desa Slangit Kecamatan Klangenan
Cirebon
Pengalaman belajar menari, antara lain: Tahun 1952 mulai belajar menari topeng dari
Ki Arja (Ayahnya).
Piagam Penghargaan, antara lain: Sebagai Penari Topeng Cirebon dari Pemda
Kabupaten Cirebon (1967), keikutsertaan pesta seni tradisional antar bangsa (1978),
Pekan Tari Daerah dari Direktorat Pembinaan Kesenian (1978), Direktorat Kesenian
Peserta Pekan Dramatari dan Teater Daerah Tingkat Nasional (1984), With Thank to Our
Indonesia Teacher and Friend For Sharing The Richard of West Java with As. The UCSC
Music and Theatre art Wayang Gamelan Jakarta (1988), Certificate of Apreciation,
Festival of Indonesia (1990-1991), Panitia Pameran Kebudayaan di Amerika Serikat
1990-1991 (KIAS), STSI Bandung (1996), Pusat Kesenian Jakarta TIM (1993), Direktorat
Nilai Estetika Depdiknas (2000), dan Anugrah Seni dari Menteri Kebudayaan dan
Pariwisata RI (2002)
4. DRS. H. GUGUM GUMBIRA TIRASONJAYA
Tempat/tanggal lahir: Bandung, 4 April 1945, Alamat: Jl. Kopo No. 15 Bandung
Pengalaman belajar menari, antara lain: Belajar Pencak Silat dan Ketuk Tilu dari bapak
Miharta (ayahnya) dan Ketuk Tilu modern dari Saleh Natasanjaya di Bandung, kemudian
belajar Ketuk Tilu dari Bacih Citarip Bandung, dari Sanudi Lembang-Bandung, Lurah
Dana dari Lembang-Bandung, Djulaeha Situ Aksan-Bandung, dan Nandang Barmaya di
Bandung. Selanjutnya belajar tari Ketuk Tilu gaya kaleran pada Pendul dari perkumpulan
Topeng Banjet Pusaka Lemah Dawur Kabupaten Karawang, Atut di Karawang, dan
Epeng di Kabupaten Karawang. Sedangkan belajar tari Bajidor dan Kliningan diperoleh
dari Askin di Karawang. Di samping belajar tari KetukTilu, Pencak Silat, dan Bajidoran
juga belajar tari Wayang yang diperoleh dari Drs. Syarip Musa di Cigelereng-Bandung
dan tari Tayub dari Wigandi-Bandung, dan Ono Lesmana di Sumedang.
Kekaryaan, antara lain tari: Gaplek (1978), Kangsreng, Keser Bojong, Rendeng Bojong,
Pencug Bojong, Toka-toka, Kuntul Manggut, Setrasari (1982), Sonteng (1983), Ringkang
Gumiwang (1985), Rawayan (1987), Kawung Anten (1992)TOKOH TARI SUNDA
STANDAR KOMPETENSI NASIONAL BIDANG KEAHLIAN TARI SUNDA 3
Piagam Penghargaan, antara lain: Festival Tari Rakyat se-Asia di Hongkong (1978),
Misi kesenian Bandung-Braunnscweig (1983), Festival Film Asia di Bandung (1986),
Hari Ulang Tahun Republik Indonesia di Bangkok (1986), Misi Kesenian ke Jepang
(1988), HUT Yayasan Gotong Royong dan HUT Ibu Tien Soeharto,Seminar Kesehatan
WIC (1988), Menyambut tamu negara Sultan Brunei Darusalam (1989), Opening
ceremonial ATF di Bangkok (1990), Festival Kesenian Indonesia-Amerika (KIAS)
(1990), Kirab Remaja Nasional I Tari Masal di Jakarta (1990), Misi Kesenian ke Eropa
(1991), Misi Kesenian ke Malaysia (1992), Kirab Remaja Nasional II di Jakarta (1993)
dan III (1995), Misi Kesenian ke Singapura (1994), Misi Kesenian ke Korea Selatan
(1996), Misi Kesenian ke Laos (1996), dan Misi Kesenian ke Jepang (1997).
5. T. WAHYUDIN
Tempat/Tanggal Lahir: Sumedang, 1 Mei 1933, Alamat: Kecamatan Situraja Sumedang
Pengalaman Belajar Menari, antara lain: Tahun 1942 belajar tari Keurseus dari Winata
Raksapraja (Ayahnya), Tahun 1951 belajar Tari Keurseus dan Wayang wong dari
R. Sadeli Hardjadinata, Tahun 1952 belajar tari Keurseus dan Tari Wayang dari R.Ono
Lesmana Kartadikusumah.
Piagam Pengahargaan, antara lain: Juara lomba Tari Keurseus (Gawil) se-Jawa Barat
(1974), juara Festival tari Keurseus (Lenyepan) se-Jawa Barat (1980), dan dari Bupati
Sumedang sebagai Tokoh Tari (1999).
6. JAHIM JUARSA
Tempat/Tanggal Lahir: Subang, 1925, Alamat: Kampung Palabuan Kel. Sukamelang
kec./kab. Subang.
Pengalaman Belajar Menari, antara lain: Tahun 1945 belajar tari dan gamelan Ketuk
Tilu kepada Imik Emen (Cikampek, Kabupaten Karawang), Tahun 1950 belajar kendang
Doger kepada Naong (Koranji, Purwadadi-Kabupaten Subang).
Kekaryaan, antara lain: Tari Babadayaan, Tari Doger, Tari Gondang, Tari Kangsreng,Tari Awi Ngarambat, dan Tari Buah Kawung.
Piagam Penghargaan, antara lain: dari Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung
(1994), Bupati Subang (1994), SMKI Bandung (1996).
TOKOH TARI SUNDA
STANDAR KOMPETENSI NASIONAL BIDANG KEAHLIAN TARI SUNDA 4
7. TJETJEP SULASWARA
Tempat/Tanggal Lahir: Ujung Berung, 1 Januari 1948, Alamat: Jl. Nagrog II Ujung
Berung Kota Bandung.
Pengalaman Belajar Menari, antara lain: Belajar Tari Ketuk Tilu dari Yoyo Yohana
(ayahnya), Rd. Padmadipura dan Sanudi di Bandung.
Kekaryaan : Tari Cikeruhan
Piagam Penghargaan, antara lain: Dari Gubernur Propinsi Jawa Barat (1980), dan dari
Depdikbud (1980).
8. RISYANI, SST
Tempat/Tanggal Lahir: Bandung, 24 Desember 1949, Alamat: Jl. Tirta Wening No. 158
Bandung Telp. 7800778.
Pengalaman Belajar Menari, antara lain: Tari Topeng Klana (1962), Topeng
Tumenggung (1968), Topeng Klana (1973), Topeng Kencana Wungu dan Topeng Tiga
Watak (1974) dari R. Nugraha Soediredja
Kekaryaan, antara lain: garapan Dramatari Topeng bersama Enoch Atmadibrata (1968-
1985).
Karya Tulis, antara lain: Proses Kreatif Nugraha Soediredja Dalam Penataan Tari
Topeng Priangan (1998), Estetika Tari Sunda (2000), R. Nugraha Soediredja (2001),
Bodar Dalam Pertunukan Topeng Cirebon Dewasa Ini (2002), Panakawan Dalam
Topeng Cirebon Sebagai Ekspresi Khas Pemeran Rakyat Teater Tradisi Jawa Barat
(2003)
Piagam Penghargaan, antara lain: dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kota
Bandung sebagai Penari (1962-1966), dan Juara I Tari Topeng Klana (1966).

JENIS-JENIS TARI

1. Tari Gantar
Tarian yang menggambarkan gerakan orang menanam padi. Tongkat menggambarkan kayu penumbuk sedangkan bambu serta biji-bijian didalamnya menggambarkan benih padi dan wadahnya.
Tarian ini cukup terkenal dan sering disajikan dalam penyambutan tamu dan acara-acara lainnya.Tari ini tidak hanya dikenal oleh suku Dayak Tunjung namun juga dikenal oleh suku Dayak Benuaq. Tarian ini dapat dibagi dalam tiga versi yaitu tari Gantar Rayatn, Gantar Busai dan Gantar Senak/Gantar Kusak.
Tari Perang

2. Tari Kancet Papatai / Tari Perang
Tarian ini menceritakan tentang seorang pahlawan Dayak Kenyah berperang melawan musuhnya. Gerakan tarian ini sangat lincah, gesit, penuh semangat dan kadang-kadang diikuti oleh pekikan si penari.
Dalam tari Kancet Pepatay, penari mempergunakan pakaian tradisionil suku Dayak Kenyah dilengkapi dengan peralatan perang seperti mandau, perisai dan baju perang. Tari ini diiringi dengan lagu Sak Paku dan hanya menggunakan alat musik Sampe.

Tari Kancet Ledo

3. Tari Kancet Ledo / Tari Gong
Jika Tari Kancet Pepatay menggambarkan kejantanan dan keperkasaan pria Dayak Kenyah, sebaliknya Tari Kancet Ledo menggambarkan kelemahlembutan seorang gadis bagai sebatang padi yang meliuk-liuk lembut ditiup oleh angin.
Tari ini dibawakan oleh seorang wanita dengan memakai pakaian tradisionil suku Dayak Kenyah dan pada kedua tangannya memegang rangkaian bulu-bulu ekor burung Enggang. Biasanya tari ini ditarikan diatas sebuah gong, sehingga Kancet Ledo disebut juga Tari Gong.
4. Tari Kancet Lasan
Menggambarkan kehidupan sehari-hari burung Enggang, burung yang dimuliakan oleh suku Dayak Kenyah karena dianggap sebagai tanda keagungan dan kepahlawanan. Tari Kancet Lasan merupakan tarian tunggal wanita suku Dayak Kenyah yang sama gerak dan posisinya seperti Tari Kancet Ledo, namun si penari tidak mempergunakan gong dan bulu-bulu burung Enggang dan juga si penari banyak mempergunakan posisi merendah dan berjongkok atau duduk dengan lutut menyentuh lantai. Tarian ini lebih ditekankan pada gerak-gerak burung Enggang ketika terbang melayang dan hinggap bertengger di dahan pohon.
5.Tari Leleng
Tarian ini menceritakan seorang gadis bernama Utan Along yang akan dikawinkan secara paksa oleh orangtuanya dengan pemuda yang tak dicintainya. Utan Along akhirnya melarikan diri kedalam hutan. Tarian gadis suku Dayak Kenyah ini ditarikan dengan diiringi nyanyian lagu Leleng.
Tari Hudoq

6. Tari Hudoq
Tarian ini dilakukan dengan menggunakan topeng kayu yang menyerupai binatang buas serta menggunakan daun pisang atau daun kelapa sebagai penutup tubuh penari. Tarian ini erat hubungannya dengan upacara keagamaan dari kelompok suku Dayak Bahau dan Modang. Tari Hudoq dimaksudkan untuk memperoleh kekuatan dalam mengatasi gangguan hama perusak tanaman dan mengharapkan diberikan kesuburan dengan hasil panen yang banyak.
7. Tari Hudoq Kita’
Tarian dari suku Dayak Kenyah ini pada prinsipnya sama dengan Tari Hudoq dari suku Dayak Bahau dan Modang, yakni untuk upacara menyambut tahun tanam maupun untuk menyampaikan rasa terima kasih pada dewa yang telah memberikan hasil panen yang baik. Perbedaan yang mencolok anatara Tari Hudoq Kita’ dan Tari Hudoq ada pada kostum, topeng, gerakan tarinya dan iringan musiknya. Kostum penari Hudoq Kita’ menggunakan baju lengan panjang dari kain biasa dan memakai kain sarung, sedangkan topengnya berbentuk wajah manusia biasa yang banyak dihiasi dengan ukiran khas Dayak Kenyah. Ada dua jenis topeng dalam tari Hudoq Kita’, yakni yang terbuat dari kayu dan yang berupa cadar terbuat dari manik-manik dengan ornamen Dayak Kenyah.
8. Tari Serumpai
Tarian suku Dayak Benuaq ini dilakukan untuk menolak wabah penyakit dan mengobati orang yang digigit anjing gila. Disebut tarian Serumpai karena tarian diiringi alat musik Serumpai (sejenis seruling bambu).
Tari Belian Bawo

9. Tari Belian Bawo
Upacara Belian Bawo bertujuan untuk menolak penyakit, mengobati orang sakit, membayar nazar dan lain sebagainya. Setelah diubah menjadi tarian, tari ini sering disajikan pada acara-acara penerima tamu dan acara kesenian lainnya. Tarian ini merupakan tarian suku Dayak Benuaq.
10. Tari Kuyang
Sebuah tarian Belian dari suku Dayak Benuaq untuk mengusir hantu-hantu yang menjaga pohon-pohon yang besar dan tinggi agar tidak mengganggu manusia atau orang yang menebang pohon tersebut.
11. Tari Pecuk Kina
Tarian ini menggambarkan perpindahan suku Dayak Kenyah yang berpindah dari daerah Apo Kayan (Kab. Bulungan) ke daerah Long Segar (Kab. Kutai Barat) yang memakan waktu bertahun-tahun.
12. Tari Datun
Tarian ini merupakan tarian bersama gadis suku Dayak Kenyah dengan jumlah tak pasti, boleh 10 hingga 20 orang. Menurut riwayatnya, tari bersama ini diciptakan oleh seorang kepala suku Dayak Kenyah di Apo Kayan yang bernama Nyik Selung, sebagai tanda syukur dan kegembiraan atas kelahiran seorang cucunya. Kemudian tari ini berkembang ke segenap daerah suku Dayak Kenyah.
13. Tari Ngerangkau
Tari Ngerangkau adalah tarian adat dalam hal kematian dari suku Dayak Tunjung dan Benuaq. Tarian ini mempergunakan alat-alat penumbuk padi yang dibentur-benturkan secara teratur dalam posisi mendatar sehingga menimbulkan irama tertentu.
14. Tari Baraga’ Bagantar
Awalnya Baraga’ Bagantar adalah upacara belian untuk merawat bayi dengan memohon bantuan dari Nayun Gantar. Sekarang upacara ini sudah digubah menjadi sebuah tarian oleh suku Dayak Benuaq.

Seni tari suku Kutai dapat dibagi menjadi 2 jenis, yakni Seni Tari Rakyat dan Seni Tari Klasik.
Seni Tari Rakyat
Merupakan kreasi artistik yang timbul ditengah-tengah masyarakat umum. Gerakan tarian rakyat ini menggabungkan unsur-unsur tarian yang ada pada tarian suku yang mendiami daerah pantai.
Yang termasuk dalam Seni Tari Rakyat adalah:
1. Tari Jepen
Jepen adalah kesenian rakyat Kutai yang dipengaruhi oleh kebudayaan Melayu dan Islam. Kesenian ini sangat populer di kalangan rakyat yang menetap di pesisir sungai Mahakam maupun di daerah pantai.
Tarian pergaulan ini biasanya ditarikan berpasang-pasangan, tetapi dapat pula ditarikan secara tunggal. Tari Jepen ini diiringi oleh sebuah nyanyian dan irama musik khas Kutai yang disebut dengan Tingkilan. Alat musiknya terdiri dari gambus (sejenis gitar berdawai 6) dan ketipung (semacam kendang kecil).
Karena populernya kesenian ini, hampir di setiap kecamatan terdapat grup-grup Jepen sekaligus Tingkilan yang masing-masing memiliki gayanya sendiri-sendiri, sehingga tari ini berkembang pesat dengan munculnya kreasi-kreasi baru seperti Tari Jepen Tungku, Tari Jepen Gelombang, Tari Jepen 29, Tari Jepen Sidabil dan Tari Jepen Tali.
Seni Tari Klasik
Merupakan tarian yang tumbuh dan berkembang di kalangan Kraton Kutai Kartanegara pada masa lampau.
Yang termasuk dalam Seni Tari Klasik Kutai adalah:
1. Tari Persembahan
Dahulu tarian ini adalah tarian wanita kraton Kutai Kartanegara, namun akhirnya tarian ini boleh ditarikan siapa saja. Tarian yang diiringi musik gamelan ini khusus dipersembahkan kepada tamu-tamu yang datang berkunjung ke Kutai dalam suatu upacara resmi. Penari tidak terbatas jumlahnya, makin banyak penarinya dianggap bagus.
Tari Ganjur

2. Tari Ganjur
Tari Ganjur merupakan tarian pria istana yang ditarikan secara berpasangan dengan menggunakan alat yang bernama Ganjur (gada yang terbuat dari kain dan memiliki tangkai untuk memegang). Tarian ini diiringi oleh musik gamelan dan ditarikan pada upacara penobatan raja, pesta perkawinan, penyambutan tamu kerajaan, kelahiran dan khitanan keluarga kerajaan. Tarian ini banyak mendapat pengaruh dari unsur-unsur gerak tari Jawa (gaya Yogya dan Solo).
3. Tari Kanjar
Tarian ini tidak jauh berbeda dengan Tari Ganjur, hanya saja tarian ini ditarikan oleh pria dan wanita dan gerakannya sedikit lebih lincah. Komposisi tariannya agak lebih bebas dan tidak terlalu ketat dengan suatu pola, sehingga tarian ini dapat disamakan seperti tari pergaulan. Tari Kanjar dalam penyajiannya biasanya didahului oleh Tari Persembahan, karena tarian ini juga untuk menghormati tamu dan termasuk sebagai tari pergaulan.
4. Tari Topeng Kutai
Tari ini asal mulanya memiliki hubungan dengan seni tari dalam Kerajaan Singosari dan Kediri, namun gerak tari dan irama gamelan yang mengiringinya sedikit berbeda dengan yang terdapat di Kerajaan Singosari dan Kediri. Sedangkan cerita yang dibawakan dalam tarian ini tidak begitu banyak perbedaannya, demikian pula dengan kostum penarinya.
Tari Topeng Kutai terbagi dalam beberapa jenis sebagai berikut:
01. Penembe
02. Kemindhu
03. Patih
04. Temenggung
05. Kelana
06. Wirun
07. Gunung Sari
08. Panji
09. Rangga
10. Togoq
11. Bota
12. Tembam
Tari Dewa Memanah

Tari Topeng Kutai hanya disajikan untuk kalangan kraton saja, sebagai hiburan keluarga dengan penari-penari tertentu. Tarian ini juga biasanya dipersembahkan pada acara penobatan raja, perkawinan, kelahiran dan penyambutan tamu kraton.
5. Tari Dewa Memanah
Tarian ini dilakukan oleh kepala Ponggawa dengan mempergunakan sebuah busur dan anak panah yang berujung lima. Ponggawa mengelilingi tempat upacara diadakan sambil mengayunkan panah dan busurnya keatas dan kebawah, disertai pula dengan bememang (membaca mantra) yang isinya meminta pada dewa agar dewa-dewa mengusir roh-roh jahat, dan meminta ketentraman, kesuburan, kesejahteraan untuk rakyat.

PENGERTIAN SENI TARI

Seni tari adalah keindahan ekspresi jiwa manusia yang diungkapkan berbentuk gerak tubuh yang diperhalus melalui estetika.

Beberapa pakar tari melalui simulasi di bawah ini beberapa tokoh yang mendalami tari menyatakan sebagai berikut.

Haukin menyatakan bahwa tari adalah ekspresi jiwa manusia yang diubah oleh imajinasi dan diberi bentuk melalui media gerak sehingga menjadi bentuk gerak yang simbolis dan sebagai ungkapan si pencipta (Haukins: 1990, 2). Di sisi lain ditambahkan oleh La Mery bahwa ekspresi yang berbentuk simbolis dalam wujud yang lebih tinggi harus diinternalisasikan.Untuk menjadi bentuk yang nyata maka Suryo mengedepankan tentang tari dalam ekspresi subyektif yang diberi bentuk obyektif (Meri:1987, 12). Dalam upaya merefleksikan tari kedua tokoh sejalan.

Dengan demikian dapat diakumulasi bahwa tari adalah gerak-gerak dari seluruh anggota tubuh yang selaras dengan musik, diatur oleh irama yang sesuai dengan maksud dan tujuan tertentu dalam tari. Di sisi lain juga dapat diartikan bahwa tari merupakan desakan perasaan manusia di dalam dirinya untuk mencari ungkapan beberapa gerak ritmis. Tari juga bisa dikatakan sebagai ungkapan ekspresi perasaan manusia yang diubah oleh imajinasi dibentuk media gerak sehingga menjadi wujud gerak simbolis sebagai ungkapan koreografer. Sebagai bentuk latihanlatihan, tari digunakan untuk mengembangkan kepekaan gerak, rasa, dan irama seseorang. Oleh sebab itu, tari dapat memperhalus pekerti manusia yang mempelajarinya.

INILAH FAKTANYA

Kejadian Aneh Tanda-tanda Kiamat | 7 Kejadian Aneh di Dunia
23 Agu, 2010


Media Kita Semua - Akhir-akhir ini banyak kejadian aneh yang di alam ini, terutama kejadian yang sangat menggemparkan dunia yaitu kejadian Hujan Darah yang terjadi di India baru-baru ini, dan setelah kita amati dengan seksama apakah dunia ini akan berakhir, ataukah kita hanya diberikan peringatan untuk kita harus lebih bersyukur pada Allah SWT, dan kita harus kembali mendekatkan diri dengan Allah SWT. maka dapat kita simpulkan kalau ada Kejadian Aneh Tanda-tanda Kiamat oleh Media Kita Semua, dan beritanya hanya ada disini.

Sebagai manusia kita hanya bisa berusaha dan juga berdoa untuk sesuatu yang terbaik hanya ada didunia ini, berikut ada Kejadian Aneh Tanda-tanda Kiamat | 7 Kejadian Aneh di Dunia yaitu :

1. Lahirnya Bayi Iblis Bermata Merah Di Arab

2. Di temukannya Bangkai kapal Nabi Nuh di Bukit judi

3. Bergesernya Matahari Beberapa Derajat

4. Lahirnya Bayi bermata tiga di Arab

5. Berubahnya Arah Kiblat kurang lebih 20 derajat yang mana pada jam 15.00-16.00 Matahari tepat di bawah Ka'bah

6. Jatuhnya Hari-hari besar pada Hari Jum'at

7. Terjadinya Hujan Darah Di India.

Setelah kita menelusuri beberapa kejadian diatas, mari kita semua sadar diri akan terlalu banyak Dosa yang kita lakukan dan sudah waktunya seluruh manusia didunia Sadar dan kembali kepadaNya.

tugas 4


1.       Bagaimana perkembangan alat musik sasando di tengah gemuruhnya serbuan musik barat?
Dibuat dengan cara sasando dengan versi elektronis dilengkapi dengan spool layaknya gitar kistrik.. agar tidak terbelakang alat musik ini.

2.       Bagaimana pendapatmu tentang ‘inovasi ‘ yg dilakukan terhadap sasndo?
Sanagat bias dilakukan (kreativ diantaranya)
Disebur kreatif karena sasando ini dibuat beragam bentuk seperti: sasando lipat , elektronik , dll

3.       Denting sasando nyaris tak terdengar oleh khalayak dinegri sendiri’.
Menurutmu benarkah hal ini dan mengapa sang penulis artikel ini berpendapat demikian?
Benar! , karena si penulis menganggap bahwa  khalayak tidak banyak dengar lagi mengenai alat nusik ini , soalnya masyarakat lebih memilih music modern , ex: piano , guitar dram , dsb